SUSUNAN REDAKSI TABLOID LINTAS PENA

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi :Redi Mulyadi Wakil Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Wartono Pemimpin Perusahaan: Redi Mulyadi Wakil Pemimpin Perusahaan: Dede Fuad Manajer Iklan: Ade Bachtiar Alief Penasehat Hukum : Asep Ahmad Munandar,SH,Abdul Wahid SH dan Saepudin,SH,MH Sekretaris Perusahaan/Manajer Keuangan : Nina Nurlina Redaktur : Wartono (081323171347-086321129559-08535395559 ) Staf Redaksi : Endang Sutrisno,Tatang RA,Dede Fuad, ,U Wahyu,Putri Cristine,Johan Rohani,Ade Bachtiar Alief,Mumuh Muhlis, ,A.Rojak,Lena Candrawati,Nanang Suhendar,Husen,Deni K.Koswara,Adi Sumarna,Hendaya, Usep Herliana, Budhi Prihanto,Andri Kalimantoro,R.Indra Purnama Yunus,Jasmiran,Moch.Ending S.,Ajat Sudrajat,Nunu Tajudin,Agus Widodo,Sunarto Sapdo,Yessi S.Bachtiar Kab.Nunukan Kalimantan Timur).Biro Provinsi Banten : Nuraeni, Biro Jabotabek: Ahmadin dan Maswi Ishak Dewan Penasehat : H.Eddy Padmadisastra,Drs.Deri Daswara.MM,H.Asep Mulyana FPRM,KH.Dudung Abdulrahman,KH.Sumpena,Barlin.B.Easy,Ir.H.Parikesit Wirasutisna,Aam Ruhimat,S.Pdi, Ki Bagus Banten Wartawan Kehormatan : Drs.Zaenal Muttaqin,M.Pd Layout : Wildan.N,Rekening Bank : 0147937083 Bank Mandiri Cabang Tasikmalaya a/n Redi Mulyadi Alamat Redaksi : Jl.Dr.Moh.Hatta No.13A Tasikmalaya 46132 e-mail : redimulyadi@gmail.com/lintas.pena@gmail.com

Sabtu, 15 September 2012

JEJAK PERAHU MISTERIUS “JONG DOBO” DI BUMI KABUPATEN SIKKA Flores NTT







”Sebelum melakukan perjalanan, mereka yang hendak berlayar membuat sumpah serapa. Mereka tidak boleh melanggar hukum adat, alam dan hukum Tuhan. Apabila melanggar, maka mereka dikutuk menjadi kecil”.
 .
Dusun Dobo atau lebih dikenal dengan sebutan Perkampungan Dobo, merupakan 1 dari 3 dusun yang berada dalam wilayah Desa Iyantena, Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka Flores Nusa Tenggara Timur. Perkampungan Dobo berada diketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Ada 37 kepala keluarga (kk) yang menetap-tinggal dan bermata pencaharian sebagai petani. Di perkampungan ini terdapat 7 suku atau dalam bahasa setempat disebut ”Lepo Pitu”. Diantaranya, Lepo Tana Pu’ang, Lepo Mangun Lajar, Lepo Sadopun, Lepo Hoban, Lepo Goban, Lepo Tadak, dan Lepo Tana Wura. Keseluruhan Lepo yang berada di Perkampungan Dobo dipimpin seorang Kepala Kampung, yaitu Lepo Tana Pu’ang (Tuan Tanah-Red).
            Adanya Lepo-Lepo tersebut tampak jelas di Perkampungan Dobo, karena ada 7 lokasi terdapat onggokan batu yang tersusun rapi yang disebut ”Watu Mahe”. Sedangkan persis berada ditengah kampung adalah Watu Mahe milik Lepo Tana Pu’ang. Di Watu Mahe, oleh masyarakat setempat sering diadakan upacara-upacara, seperti memberi sesajian pada arwah nenek moyang, upacara persiapan tanam dan panen, serta upacara adat lainnya. Dan tentunya, minuman tradisional Moke atau dalam bahasa Sikka disebut ”Tua” yang melegitimasi keabsahan semua upacara yang dilakukan masyarakat Perkampungan Dobo. 
             Jalan menuju lokasi lumayan bagus. Sayangnya, lebar jalan beraspal itu hanya sekitar 2,5 meter, sehingga terlihat begitu sempit. Tampak di samping kiri dan kanan jalan berbaris rapi tanaman komoditi perdagangan jambu mete dan tanaman kemiri yang berdiri menjulang tinggi. Sebelum sampai di Perkampungan Dobo, beberapa perkampungan mesti dilewati, yakni Kampung Habilopong, Apinggoot dan Wolomotong. Setengah jam (30 menit) kemudian, kami tiba di Gapura (Pintu masuk) lokasi Jong Dobo. ”Uhet Dien Dat Hading”, demikian tulisan dalam Bahasa Sikka yang artinya, ”Selamat Datang, Pintu Terbuka”.
            Ternyata benar. Gerbang Jong Dobo yang berada di atas lahan luas 2,5 hektar dan dipagari dengan kawat berduri itu dalam keadaan terkunci. Perjalanan kami lanjutkan sekitar 100 meter dari gerbang menuju Perkampungan Dobo, lokasi kediaman sang pewaris dan pemegang kunci gerbang Jong Dobo. Kami dipandu Ito (9), warga Dobo, menuju rumah Sergius Moa. ”
            ”Tidak ada larangan khusus bagi setiap pengunjung yang ingin melihat Jong Dobo. Tapi, perlu diingat, di areal hutan tempat Jong Dobo berada punya larangan khusus, ada sebuah batu besar di pintu masuk tidak boleh diduduki oleh siapapun. Dan semua pohon atau tanaman yang ada di lokasi jangan dirusak, karena akan terjadi malapetaka besar. Satu lagi, tidak boleh bawah makanan,” jelas Sergius Moa, sambil membuka dokumen-dokumen, yang berkisahkan tentang Jong Dobo.
            Memang tidak ada larangan apapun, tapi dia selalu mengingatkan setiap pengunjung. Sergius Moa menuturkan, pada tahun 1943, pernah terjadi bencana besar di Perkampungan Dobo dan sekitarnya, karena Jong Dobo dibawah keluar dari tempatnya oleh 2 orang guru yang berasal dari Bei, Kecamatan Kangae. Kedua guru ini hendak menunjukkan Jong Dobo kepada anak muridnya, tapi yang terjadi, selama 3 hari hujan dan angin di wilayah Perkampungan Dobo dan Bei. Jong Dobo kemudian dikembalikan pada tempatnya. Hal yang sama terjadi lagi ketika, Jong Dobo dipindahkan ke Museum Blikon Blewut Ledalero.
            Terakhir, lanjutnya, pada tahun 2009, seorang peneliti asal Jerman bernama Mr. Janina Findeisen ditemani Mr. Pose Jurgen dari Jakarta, datang dan meminta agar sebagian dari Jong Dobo diberikan kepadanya dan dibawah ke Jerman demi kepentingan penelitiannya. ”Tapi saya tidak berikan. Yang terjadi, ketika mereka mengambil gambar foto melalui kamera dan video digital, semua gambar tidak terekam. Akhirnya, 4 bulan kemudian, Mr. Pose Jurgen kembali lagi dan mengambil ulang gambar Jong Dobo,” kata pria berjanggut lebat ini.
            Jika ingin melihat Jong Dobo, jelas Sergius Moa, mesti dilakukan ritual khusus dengan memberi sesajen kepada arwah nenek moyang. Sesajen yang mesti dibawah antara lain, beras, ekor ikan asin, sirih pinang dan rokok tembakau. ”Tapi ini tidak dipaksakan, kalau ada pengunjung tidak tahu, saya yang sediakan. Ritual ini mesti dilakukan agar kita dapat melihat dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata pria, yang mendapat honor Rp. 300.000 per bulan dari Disparsenbud Sikka atas tugasnya menjaga Jong Dobo.
Apa itu Jong Dobo
            Jong Dobo adalah artefak berbentuk perahu mini dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 12 cm, dan tinggi 25 cm. Perahu ini terbuat dari tembaga dengan awak 22 orang, terdiri dari 1 nahkoda, 3 juru mudi, 12 pendayung, 6 penumpang. Dalam perahu tersebut ada ayam 1 ekor dan 1 buah gong.
Jong Dobo dalam Bahasa Sikka terdiri dari dua suku kata. ”Jong” berarti perahu/kapal, sedangkan ”Dobo” adalah nama perkampungan, tempat disimpannya perahu tersebut. Jika diterjemahkan secara bebas, artinya ”Perahu di Bukit Dobo”.
            Kini, perahu ini diawasi oleh seorang Tana Pu’ang (Tuan Tanah, Red), yakni Sergius Moa. Artefak Jong Dobo diakui masyarakat setempat sebagai benda kramat dan sakti. Benda ini diyakini bisa mendatangkan panas, menurunkan hujan, meniup topan dan badai, bahkan bisa mendatangkan malapetaka.
Legenda dan Penelitian
            Sergius Moa menceritakan. ”Menurut cerita yang diturunkan dari para leluhur dan menjadi legenda masyarakat, Jong Dobo datang dari India Belakang (Dongson) berlayar dari India untuk mencari tempat yang subur dan menetap. Sebelum melakukan perjalanan, semua mereka yang hendak berlayar tersebut membuat sumpah serapa/janji. Sumpah tersebut adalah tidak boleh melanggar hukum adat, alam dan hukum Tuhan. Apabila melanggar sumpah serapa tersebut, maka mereka akan dikutuk menjadi kecil. Mereka melanggar sehingga dikutuk menjadi kecil,” cerita Sergius.
            Sergius Moa mengatakan, perjalanan mereka dimulai dari India, Thailand, Selat Malaka terus ke Indonesia melalui Sumatera, Jawa, Irian (Aru/Dabu), Bima, Labuan Bajo (Pulau Flores). Dari situ mereka berlayar melalui pesisir pantai utara Pulau Flores, di Bajawa (Kabupaten Ngada) mereka mampir di Koli Dobo dan meneruskan hingga perjalanan ke Ende. Dari Ende, mereka meneruskan perjalanan menuju Maumere (Kabupaten Sikka) dan berlabu di Waipare, Kecamatan Kangae.
            Di Waipare, lanjutnya, jangkar kapal terputus dan tertinggal, sehingga perjalanan dilanjutkan pada keesokan harinya. Bekas jangkar Jong Dobo masih ada di pesisir Pantai Waipare. Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan menuju Ihigete Gera, Getung Deu dan diterima oleh seorang bapak (tidak diketahui namanya), penderita penyakit kudis. Usai dari tempat itu, mereka menarik kapal, karena kapal tersebut terkandas di salah satu bukit sehingga bukit tersebut terbagi menjadi dua bagian. Oleh masyarakat setempat, bukit itu dinamakan Wolon Gele dan bekas tarikan perahu tersebut dimanfaatkan masyarakat menjadi jalan kampung. ”Karena mereka tidak diterima dengan baik, maka mereka melanjutkan perjalanan dan menetap di Bukit Dobo. Disini mereka diterima oleh Moat Wogo Pigang dan mereka tinggal hingga saat ini,” lanjut Sergius Moa.
            Secara ilmiah, jelas Sergius Moa, artefak Jong Dobo pernah diteliti oleh ahli sejarah, seperti Dr. Th. Hoeven dan Prof. Hugh O’neil. Kedua ilmuwan ini mempunyai pendapat berbeda sesuai hasil penelitiannya. Menurut Ahli Bahasa Yunani dan Latin Dr. Th. Hoeven, artefak Jong Dobo berasal dari kebudayaan Dongson, India Belakang atau Tiongkok, sekarang Vietnam pada abad 13 SM.
            Sementara Prof. Hugh O’neil, Ahli Bangun Purba dan Modern dari Melbourne University, Australia, berpendapat, jika dilihat dari struktur dan bentuknya artefak Jong Dobo berasal dari kebudayaan Sumeria pada abad 3 SM. Artefak ini dibawah dari Laut Tengah India dalam petualangan migrasi Suku India ke Indonesia. Perjalanan ini menghantarkan mereka sampai di Bukit Dobo dan meletakkan benda tersebut.
            Perbedaan pendapat kedua ahli dan cerita legenda masyarakat Dobo tersebut menunjukkan, hingga saat ini artefak Jong Dobo masih misterius. Sulit untuk memastikan dari mana asalnya, siapa yang membawa dan mengapa berada di bukit Dobo.
            Lebih lanjut Sergius Moa, menjelaskan, menurut penelitian yang dilakukan pada tahun 2004 oleh Pater Eman Embu, SVD., dirinya merupakan pewaris ke tujuh yang menjadi pemegang kunci dan pemilik artefak Jong Dobo. Dia mengatakan, orang pertama yang menerima artefak Jong Dobo adalah Moat Wogo Pigang. Selanjutnya hak kepemilikan secara berurutan diwariskan kepada Moat Bela (Pewaris 2), Moat Sia (Pewaris 3), Moat Nong (Pewaris 4), Moat Potu Mumeng (Pewaris 5), Moat Domi Hende (Pewaris 6), dan Moat Sergius Moa (Tahun 2001 hingga kini). “Menurut penelitian yang dilakukan Pater Eman Embu, SVD., Saya adalah orang ke 7 yang menjadi ahli waris/penerus kepemilikan artefak Jong Dobo,” ungkap Sergius Moa, mengutip hasil penelitian itu.
Butuh Sentuhan Profesional
            Sayangnya, sarana pendukung di lokasi artefak Jong Dobo masih sangat terbatas, bahkan nyaris tidak ada sama sekali. Tidak adanya fasilitas pendukung. Tidak ada pondok – pondok peristirahatan (homestay) atau penginapan yang bisa membuat pengunjung menjadi lebih aman dan nyaman. Padahal, artefak Jong Dobo merupakan salah satu destinasi wisata Kabupaten Sikka. 
            Sergius Moa, selaku pemilik artefak Jong Dobo,  mengharapkan agar pemerintah dalam hal ini Disparsenbud Kabupaten Sikka menata areal tersimpannya artefak Jong Dobo dengan baik. Seperti membangun pondok-pondok peristirahatan, MCK, dan fasilitas lainnya yang bisa membuat kunjungan para pengunjung lebih terkesan dan bermakna. ”Harapan saya, Dinas Pariwisata bisa menata tempat ini menjadi lebih baik, agar pengunjung bisa lebih nyaman menikmati keunikan dari artefak Jong Dobo,” pintanya.
. ****  (Yuven Fernandez) jalan kimang buleng 03 Maumere Flores NTT no hp 085 253 227 921.


0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda