Pengaruh Karakter Guru Terhadap Masa Depan Siswa

- Selasa, Juli 17, 2012
advertise here


Oleh : Drs. Zaenal Muttaqin, M.Pd
Kehadiran orang tua bagi seorang anak  sangatlah besar artinya, Melalui kehadiran dan interaksi dengan orangtua anak dapat mengenal indahnya dunia dan memahami suka- duka kehidupan ini. Melalui orangtua maka anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan bahasanya. Untuk selanjutnya melalui orangtua pula seorang anak dapat mengenal sosial atau mengenal orang lain. Seiring dengan bertambahnya usia anak dan makin luasnya eksplorasi mereka, akhirnya dalam usia kanak- kanak setiap anak mengenal dunia sekolah dan sekaligus menjadsi anggota atau kelompok sosial di sekolah. Di sini mereka mengenal sosok figur atau orang lain yang bisa mereka kagumi, takuti, segani yang mereka panggil sebagai guru yang punya peran sebagai orang tua mereka di sekolah.
Saat anak belum mengenal dunia sekolah, maka egosentris adalah ciri khas karakter mereka. Apa saja yang ada di seputar jangkauan indera mereka diklaim sebagai miliknya atau dalam konsep kekuasaanya. Namun saat mereka sudah bersentuhan dengan dunia sekolah- seperti taman kanak- kanak- maka karakter egosentris secara perlahan berkurang dan menghilang. Mereka akhirnya memahami dan mengenal realita sosial, harus bisa menerima posisi kalah atau menang, bertentangan atau berdamai.
Gurulah orang tua bagi anak di sekolah, setelah keberadaan orang tua di rumah, yang sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan kepribadian anak. Sangat beruntung bahwa semua guru taman kanak- kanak mendapat respon yang simpatik dari anak- anak akibat positif dari karakter atau prilaku guru yang ramah tamah dan sangat simpatik atau bersahabat. Karakter yang mereka miliki telah mampu untuk merebut hati anak makhluk- makhluk kecil itu- sebagai anak didik mereka. Di rumah mereka selalu memuji dan menyanjung kelebihan ibu guru mereka.
Memasuki usia Sekolah Dasar mereka harus berhadapan dengan berbagai macam karakter  guru guru , teman dan senior senior mereka yang lebih bervariasi. Ada yang baik, lembut, penyayang dan yang lebih menyeramkan adalah kalau ada karakter yang galak dan pemarah. Maka tidak heran kalau anak- anak kecil itu mengawali hidup mereka di Sekolah Dasar dengan penuh kecemasan dan ketegangan. Dan mereka masih beruntung bila guru-guru di  Sekolah Dasar kelas satu masih memperlihatkan karakter yang simpatik dan ramah tamah menyerupai karakter guru- guru mereka saat masih di Taman Kanak- Kanak. Namun mimpi buruk akan terjadi bagi anak- anak kecil tersebut apabila mereka harus belajar dan berintegrasi dengan guru- guru kelas satu atau kelas dua Sekolah Dasar yang kurang bisa bersimpati dan berempati dan juga kurang ramah di mata anak didik. Maka di sini mulai terjadi kejutan mental yang pertama bagi mereka dalam bentuk ekspressi; menangis, menarik diri, ketakutan dan sampai mengalami ngompol dalam kelas.
Bila kasus ini terjadi pada suatu kelas atau suatu Sekolah Dasar , maka adalah sangat ideal bila bapak dan ibu guru segera mengintrospeksi diri agar mereka tidak tampil menakutkan di mata manusia berusial kecil tersebut. Beruntung bahwa Tuhan menganugerahi manusia kemampuan untuk beradaptasi dan berakomodasi dengan sosial dan lingkungan fisik. Maka dengan kekuatan dan kemampuan untuk beradaptasi dan berakomodasi, anak didik mampu untuk bertahan hidup dan berintegrasi dalam kehidupan sosial di sekolah.
Guru merupakan figur pengganti orang tua bagi anak-anak di sekolah, yang memberikan andil yang besar dalam tumbuh  kembang mereka. Guru akan memberikan perlindungan, pengajaran dan kebiasaan-kebiasaan  baru yang mendukung.Menurut  Covey (1997) ada empat prinsip peranan guru yang sangat berpengaruh dfalam dalam tumbuh kembang anak-anak, yaitu:
a.       Modelling (Example of trustworthness). Guru adalah contoh atau model bagi anak. Tidak dapat disangkal bahwa contoh guru mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak, sehingga Schweitz mengatakan bahwa ada tiga prinsip dalam mengembangkan anak  yeitu pertama contoh, kedua contoh dan ketiga contoh. Guru merupakan model bagi anak baik positif maupun negatif dan turut memberikan pola bagi way of life anak. Melalui modelling ini guru akan turut mewariskan cara berpikirnya kepada anak, oleh karena itu maka peranan modelling merupakan suatu yang sangat mendasar. Melalui modelling anak juga akan belajar tentang sikap proaktif, sikap respek dan kasih sayang.
b.      Mentoring yaitu kemampuan untuk menjalin atau membangun hubungan, investasi emosional atau pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur, pribadi dan tidak bersyarat. Guru menjadi sumber pertama di sekolah bagi perkembangan perasaan anak: rasa aman atau tidak aman, dicintai atau dibenci. Ada lima cara untuk memberikan kasih sayang pada orang lain: (1) empathiing adalah mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri; (2) sharing adalah berbagi wawasan, emosi dan keyakinan; (3) affirming adalah memberikan ketegasan/penguatan kepada orang lain melalui kepercayaan, penilaian, konfirmasi, apresiasi dan dorongan; (4) praying  mendoakan orang lain secara ikhlas dari hati yang paling dalam dan (5) sacrificing  adalah berkorban untuk diri orang lain.
c.       Organazing  yaitu  sekolah memerlukan tim kerja dan kerjasama antar anggota dalam memenuhi tugas-tugas atau kebutuhan sekolah dan hal-hal penting.
d.      Teaching. Guru berperan sebagai pengajar bagi anak-anak tentang hukum-hukum dasar kehidupan. Melalui pengajaran ini, guru juga menciptakan concious competence pada diri anak yaiitu anak mengalami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan  mengapa mereka mengerjakan itu.

Guru adalah manusia biasa dan sebagai manusia biasa dalam melaksanakan peran sebagai pendidik dan sebagai pemimpin bagi anak didik dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar,  mereka memiliki gaya tersendiri. Secara umum ada empat  tipe kategori dari gaya mereka yaitu; gaya demokrasi, gaya otoriter, gaya laizzes faire dan gaya pseudo demokrasi.
Keberadaan guru dengan gaya atau karakter otoriter- memperlihatkan kekuasaan mutlak atas anak didik selama pelaksanaan PBM dapat mendatangkan mimpi buruk bagi setiap anak didik. Senyum manis dan kata- kata yang lembut merupakan barang yang langka yang diperoleh dari guru berkarakter otoriter. Guru killer adalah istilah lain yang diberikan oleh anak didik untuk guru berkarakter otoriter tersebut.
Belajar dengan guru yang berkarakter otoriter adalah suatu mimpi buruk bagi anak didik. Suasana kelas tentu saja akan menjadi tenang dan teratur yang dikondisikan. Gerak laju jarum jam dinding terasa begitu lambat dan lama. Atmosfir ruangan kelas menjadi lebih kaku dan menegangkan dan menakutkan. Guru berkarakter killer atau berkarakter otoriter akan berpotensi untuk melahirkan anak didik yang suka membisu dan penakut. Adalah suatu keputusan yang bijaksana bagi pribadi yang memiliki karakter otoriter untuk tidak menjadi pendidik di mana pun berada, apalagi mengajar untuk Sekolah Dasar, karena keberadaan mereka cenderung merugikan dan merusak pertumbuhan jiwa anak didik.
Pseudo demokrasi adalah berarti “demokrasi yang palsu”. Karakter guru dengan pseudo demokrasi agaknya juga tidak memperoleh simpati di mata anak didik. Soalnya guru dengan karakter begini cendrung memonopoli kekuasaan. Keputusan yang ia buat disosialisasikan kepada anak didik namun keputusan akhir tetap menjadi monopoli mutlaknya.
Guru dengan karakter laissez faire atau  masa bodoh cenderung menurunkan kualitas budaya sekolah. Suasana kelas akan menjadi amburadul, apalagi bila populasi kelas cukup besar. Peranan guru yang berkarakter lassez faire bisa agak bagus apa bila ia mengelola kelas yang berpopulasi kecil. Agaknya guru dengan karakter demikian perlu bersikap lebih tegas dan punya prinsip atas nilai kebenaran. Menambah kualitas ilmu dan wawasan dan kemudian bersikap lebih tegas akan mampu mengatasi problema karakter laizzes faire.
Guru yang berkarakter demokrasi adalah guru yang memiliki hati nurani yang tajam. Guru dengan karakter beginilah yang mampu menghadirkan hatinya dalam emosi anak didik selama pembelajaran. Guru berkarakter demokrasi dan memiliki wawasan yang tinggi tentu akan mampu memenangkan hati anak didik atau memoltivasi mereka dalam pembelajaran. Guru yang mampu menghadirkan hatinya pada hati anak didik disebut sebagai guru yabg baik dan mereka akan dikenang oleh anak didik sepanjang hayatnya. Yang lebih banyak dikenang adalah guru yang baik.
Setiap anak didik telah banyak mengenal banyak guru dalam hidupnya, ada guru yang pintar dan ada guru yang baik. Sekali lagi bahwa guru yang berkesan bagi mereka adalah guru yang menghadirkan hati atau emosinya saat melaksanakan PBM. Guru yang cerdas atau pintar namun memiliki pribadi yang kaku, mungkin juga kasar, kurang bisa bersimpati, pasti tidak banyak memberi pengaruh kepada anak didik.
Guru yang mampu memberi pengaruh untuk masa depan anak didik lewat kata- kata atau bahasanya adalah guru yang memiliki pribadi yang hangat dan juga cerdas. Untuk itu adalah sangat ideal bila setiap guru mampu meningkatkan kualitas pribadinya menjadi guru yang cerdas, yaitu cerdas intelektual, cerdas emosi dan juga cerdas spiritualnya. Maka guru- guru yang beginilah yang patut diberi hadiah dengan seperti dalam lagu Hymne Guru sebagai  “ pahlawan tanpa tanda jasa”.
Kata kata yang diucapkan oleh guru kepada siswa atau anak didik dalam pergaulan mereka di sekolah sangat menentukan masa depan mereka. Kata kata yang diucapkan oleh guru pada anak didik ibarat panah yang lepas dari busur. Kata yang keluar dari mulut guru akan menancap pada hati anak didik. Bila kata- kata tadi melukai hati mereka, maka goresannya akan membekas sampai tua. Sering kata kata yang tidak simpatik dari seorang guru telah menghancurkan semangat hidup mereka. Sebaliknya kata kata yang mampu memberi dorongan semangat juga sangat berarti dalam menumbuh dan mengembangkan semangat hidup- semangat belajar dan bekerja mereka. Maka untuk itu guru perlu menjalin hubungan dengan anak didik lewat kata- kata yang berkualitas.
                                                                                Pengaruh Sikap/Perlakuan  Guru Pada Anak
Menurut Siti Suminarti Fashikhah (2010)  ada beberapa pola sikap atau perlakuan guru terhadap anak yang masing-masing mempunyai pengaruh tersendiri. Pola hubungan antara guru dan anak yang penuh penerimaan bukan penolakan atau terlalu melindungi atau serba boleh nampaknya akan memberikan dampak yang positif terhadap kepribadian anak.
Perilaku guru yang penuh penerimaan seperti tersebut di atas terbukti memberikan kontribusi bagi tumbuh kembang anak secara positif, disajikan pada tabel  tentang sikap/perlakuan guru dan profil tingkah laku anak.
Sikap/Perlakuan Guru dan Dampaknya terhadap Kepribadian Anak

Sikap/Perlakuan Guru


 

Perilaku Guru

Profil Tingkah Laku Anak

A

C
C
E
P
T
A
N
C
E
(penerimaan)
1.      Memberikan perhatian dan cinta kasih yang tulus
1. Mau bekerja sama
2. Bersikap responsif terhadap kebutuhan anak
1.      Bersahabat dan loyal

2.      Mengembangkan hubungan yang hangat dengan anak.
3. Mampu mengendalikan dir
4. Menenmpatkan anak dalam posisi yang penting di sekolah.
4. Ceria dan bersikap optimis
 5. Mendorong anak untuk menyatakan perasaan atau pendapatnya
 5. Menerima tanggung jawab
6.      Berkomunikasi dengan anak secara terbuka  dan mau mendengarkan masalahnya

6. Jujur dan dapat di percaya,
7. Memiliki perencanaan yang jelas untuk mencapai masa depan
8.Bersikaprealistik (memahami kekuatan dan  kelemahan dirinya secara objektif

                                                                                                      Kepribadian dan Karakter Guru
       Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional maupun Kode Etik Guru secara eksplisit mengamanatkan, faktor internal ( personalitaas ) guru merupakan bagian yang menentukan. Entitas stakeholder (guru) merupakan modal dan aset kekuatan dalam mencapai dan menentukan transformasi keberhasilan bagi peserta didik atau siswa. Kesungguhan maupun integritas guru memberikan implikasi yang signifikan dan  keberartian bagi pencapaian tujuan pendidikan yakni, membentuk insan intelektual, cerdas, terampil, dan berbudi pekerti.
      Salah satu pendidik yang sangat besar pengaruhnya terhadap anak didiknya adalah orang tua. Melalui kehadiran orangtua anak dapat mengenal indahnya dunia dan memahami suka- duka dalam kehidupannya. Melalui orangtua maka anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan bahasanya. Untuk selanjutnya melalui orangtua pula seorang anak dapat mengenal sosial atau mengenal orang lain.
      Seiring dengan bertambahnya usia anak maka makin luas pula pengetahuan mereka, pada akhirnya setiap anak mengenal dunia sekolah dan sekaligus menjadi anggota atau kelompok sosial di sekolahnya. Di sini mereka mengenal sosok figur atau pendidik yang bisa mereka kagumi, takuti dan segani yang mereka panggil sebagai guru yang punya peran sebagai orang tua mereka di sekolah. Gurulah pendidik bagi anak di sekolah, setelah keberadaan orang tua yang di rumah, yang sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan kepribadian anak.
        Aspek terakhir inilah yang saat ini yang sulit dipertahankan ketika guru harus berhadapan dengan  gaya hidup hedonisme dan ketika kebebasan dan kreativitas guru dipasung. Di satu sisi guru harus menahan diri karena perannya sebagai pendidik. Sebagai manusia, guru  juga ingin hidup  layaknya seperti orang lain. Namun,  peran mela­hirkan generasi yang cerdas, te­rampil, beriman, dan bertakwa diharapkan  menjadi tameng atau benteng dari sikap atau tin­dakan yang merusak citra kependidikannya. Karena pen­didikan itu tidak independen dari pengaruh politik, guru juga kadang tidak mendapatkan kebebasan dalam bertindak.Siswa yang terlibat menyontek masal diduga tidak lepas dari pengaruh ini. Hanya saja ada yang ditindaklanjuti ada juga yang tidak. 
        Namun, kalau ingin dunia pendidikan berjalan sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi war­ga Negara  yang demokratis dan bertanggung jawab (UU Sis­diknas Bab II Pasal 3),tentunya gu­ru harus kembali kepada ke­pribadiannya. Karena guru ada yang mengatikan” diguru dan di­tiru”, artinya panutan, hen­daknya guru  memiliki kepri­badian yang menjadi panutan.
Ki Hajar Dewantara meru­muskan seorang pendidik itu hen­dak mempunyai  kepribadian: di depan  menjadi teladan, di te­ngah membangun karsa, dan di belakang memberi dorongan. Pendidik adalah  tenaga kepen­didikan yang berkualifikasi se­bagai guru, dosen, konselor, pa­mong belajar, widyaiswara, tu­tor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpar­tisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
        Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kepribadian diartikan sebagai sifat hakiki yang ter­cermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang mem­bedakan di­rinya dari orang atau bangsa lain (1990:701). Begitu pula kepribadian pendidik ten­tunya berbeda dengan orang yang bukan pendidik. Mengenai kepribadian ini, J. Drost, SJ  menurutnya, tujuan pendidikan sebagai proses informal mem­bentuk manusia yang berke­pribadian. Secara informal pem­­­­bentukan kepribadian itu ber­langsung lewat hubungan yang tidak terencanakan, tetapi autentik antara orang  dewasa yang  telah berkepribadian dan orang yang sedang dibentuk.Dalam hubungan informal sehari-hari,  antara pembentuk dan yang dibentuk, sarana pemben­tukannya berlangsung lewat anutan bukan paksaan. Jadi proses pembentukan watak dan ke­pribadian itu autentik.
Menurutnya, yang paling men­dasar ialah pembentukan watak karena orang tidak berkarakter tidak pernah dapat menjadi pribadi yang dewasa. Memang ada perbedaan men­dasar antara kepribadian dan karakter. Sifat-sifat karakter ialah integritas, kerendahan hati, ke­setiaan, menahan diri, ber­te­ng­gang rasa, keberanian, ke­adilan, kesabaran, kerajinan, keseder­hanaan, ke­ugaharian. Bagi seorang yang berkarakter berlaku: perlakukan orang lain seperti egkau ingin diperlakukan oleh orang lain.Menurutnya, seorang yang ber­karakter ini adalah seorang yang berkepribadian.
        Salah satu asas dasar pem­bentukan kepribadian adalah bahwa sukses merupakan sebuah hasil dari kepribadian , dari citra umum, dari sikap, dan dari ke­terampilan. Karena ini, semua melumasi proses-proses interaksi manusiawi. Kalau yang terjadi demikian, ada bahaya bahwa pembentukan ini cukup mani­pulatif  karena mendorong  se­seorang  jadi mereka yang diben­tuk, mempergunakan cara-cara untuk menyenanginya atau berpura-pura menaruh minat kepada hobi-hobi mereka untuk mengetahui apa yang dikehen­daki mereka.  Usaha membentuk ke­pribadian cenderung memaksa orang lain untuk menjadi seperti yang diinginkan pembentuk kerpibadian.Berbeda halnya orang yang berkarakter, seorang yang berkarakter selalu menerima orang lain apa adanya, dan mem­bantu orang lain itu ber­kembang sesuai dengan karakter dan kepribadiannya.
        Dalam pendidikan seringkali orang tidak sabar dan ingin cepat melihat hasilnya tanpa mem­perhatikan proses menuju ke­berhasilan atau kemampuan peserta didik. Kita hanya ber­keinginan pelajar kita lulus dengan gemilang.Akan tetapi orang yang didorong lulus dilupakan pembentukan karakter dan kepribadiannya. Hasilnya peserta didik itu menjadi robot karena harus berpikir dan bertindak sesuai dengan gurunya.Akibatnya, peserta didik (maha­siswa) menjadi orang egosentris dan egoistis. Inilah akibat negatif  dari pembentukan kepribadian yang terlepas dari karakter.
           Dalam perspektif sebagian pakar pendidikan, seorang guru bukan hanya mewakili sejumlah definisi yang menakjubkan, melainkan juga representasi dari kedudukan yang sangat mulia (Rosidi, 2009). Seorang guru adalah pahlawan tanpa pamrih, pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan ilmu, pahlawan kebaikan, pahlawan pendidikan, pembangun manusia, pembawa kultur, pioner, reformer dan terpercaya, soko guru, bhatara guru, dan sebagainya.
Seluruh gambaran tersebut mencerminkan betapa agung, mulia, dan terhormatnya kedudukan seorang guru, sehingga sosok seorang guru memiliki atribut yang lengkap dengan kebaikan dan menjelma figur uswatun hasanah walau tidak sesempurna Rasul.

           Dalam pengamatan sebagian ahli pula, nama baik guru kini sedang berada pada posisi yang tidak menguntungkan, terperosok, dan jatuh karena berbagai sikap dan perilaku yang tidak mampu menampilkan figur seorang guru yang menjadi teladan bagi semua murid-muridnya. Para guru harus mencari jalan keluar atau solusi bagaimana cara mengangkatnya kembali, sehingga guru menjadi semakin wibawa, dan terasa sangat dibutuhkan anak didik dan masyarakat luas.
       Norlander-Case, Reagen, dan Charles Case dalam buku The Professional Teacher,  mengungkapkan bahwa tugas mengajar merupakan profesi moral yang mesti dimiliki oleh seorang guru. Senada dengan prinsip tersebut, Zakiah Darajat menyatakan bahwa persyaratan seorang guru di samping harus memiliki kedalaman ilmu pengetahuan, ia juga bahkan mesti seorang yang bertakwa kepada Allah dan mempunyai akhlak atau berkelakuan baik.
Hal ini berarti bahwa syarat krusial bagi seorang guru adalah kepribadiannya yang luhur, mulia, dan bermoral sehingga mampu menjadi cermin yang memantulkan semua akhlak mulia tersebut bagi seluruh murid-muridnya. Dengan kata lain, seorang guru yang berkepribadian mulia adalah seorang guru yang mampu memberi keteladanan bagi murid-muridnya.

         Secara sederhana mudah dipahami bahwa guru yang tidak bertakwa sangat sulit atau tidak mungkin bisa mendidik murid-muridnya menjelma orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Begitu pula para guru yang tidak memiliki akhlak yang mulia atau budi pekerti yang luhur tidak akan mungkin mampu mendidik siswa-siswa mereka menjadi orang-orang yang berakhlak mulia. Padahal pendidikan moral atau akhlak merupakan tujuan utama dari pendidikan Islam.

Guru sebagai teladan bagi murid-muridnya harus memiliki sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan tokoh panutan idola dalam seluruh aspek kehidupannya. Dalam paradigma sebagian pakar pendidikan, kepribadian seorang guru tersebut meliputi (1) kemampuan mengembangkan kepribadian, (2) kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara arif bijaksana, dan (3) kemampuan melaksanakan bimbingan dan penyuluhan. Kompetensi kepribadian terkait pula dengan penampilan sosok guru sebagai individu yang mempunyai kedisiplinan, berpenampilan baik, bertanggungjawab, memiliki komitmen, dan menjadi teladan.

          Menjadi seorang guru yang mampu memberi suri teladan meniscayakan jabatan guru sebagai pilihan utama yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam.
Fakta tersebut tentu berbeda bila seseorang menjadi guru hanya disebabkan tidak mungkin diterima bekerja di tempat lain, atau karena situasi terpaksa, sehingga guru seperti ini tentu dedikasinya rendah. Pada konteks ini, tugas dan tanggungjawab guru bukan sekadar transfer of knowledge, mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik, tapi lebih dari itu, yakni seorang guru juga berkewajiban membentuk watak dan jiwa anak didik yang sebenarnya sangat memerlukan masukan positif dalam bentuk ajaran agama.
Halini artinya guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang kompleks terhadap pencapaian tujuan pendidikan, di mana guru tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu yang akan diajarkan dan memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, namun guru juga dituntut untuk menampilkan kepribadian akhlaki yang mampu menjadi teladan bagi siswa.

       Mengapa seorang guru harus menjadi teladan bagi siswa? Karena kepribadian guru mempunyai pengaruh langsung dan kumulatif terhadap perilaku siswa. Perilaku guru dalam mengajar secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap motivasi belajar siswa, baik yang sifatnya positif maupun negatif. Artinya jika kepribadian yang ditampilkan guru dalam mengajar sesuai dengan segala tutur sapa, sikap, dan perilakunya, maka siswa akan termotivasi untuk belajar dengan baik, bukan hanya mengenai materi pelajaran sekolah tapi juga mengenai persoalan kehidupan yang sesungguhnya. Memberikan bimbingan kepada anak didik memiliki jiwa dan watak yang baik, mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang halal mana yang haram, adalah termasuk tugas seorang guru.

Di sinilah dalam menunaikan tugasnya seorang guru bukan hanya sebatas kata-kata, akan tetapi juga dalam bentuk perilaku, tindakan, dan contoh-contoh sehingga mampu menjadi teladan dan bisa memberi motivasi bagi siswa-siswanya. Menurut pengalaman para ahli pendidikan, sikap dan tingkah laku seorang guru jauh lebih efektif dibanding dengan perkataan yang tidak dibarengi dengan amal nyata. Lebih jauh, pembangunan karakter seorang guru sejak awal sebelum mentransmisikan gagasan-gagasannya kepada siswa, dalam kajian ilmu psikologi modern diakui nilai signifikansinya. Stephen R. Covey, mengakui karakter seseoranglah yang melakukan komunikasi paling fasih sehingga mampu memberikan pencerahan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Covey mengutip statemen Ralph Waldo Emerson, Filosof besar Amerika Serikat abad 19, yang sangat terkenal mengenai pengaruh karakter atau kepribadian seseorang yaitu, “Siapa diri Anda sebenarnya terdengar begitu keras di telinga saya sehingga saya tidak dapat mendengar apa yang Anda ucapkan,”.Pada titik inilah, menjadi guru teladan adalah menjelma guru yang tidak hanya siap memberikan ilmu pengetahuan, wawasan, dan pencerahan rasional-intelektual semata, tetapi juga mampu memberikan bimbingan nurani, akhlak yang mulia, sekaligus pencerahan emosional-spiritual kepada murid-muridnya.

                                                                                                       Karakteristik Guru Berkarakter
          Guru adalah orang yang telah memanggul tanggung jawab sebagai salah satu pembentuk karakter manusia. Sumbangan karakter guru termasuk yang paling kontributif. Pengaruh seorang guru terhadap anak didiknya hampir sebesar pengaruh orang tua terhadap anaknya. Bahkan, kadang kita sering menemui seorang anak, ketika diperintah oleh orangtuanya tidak mau mengerjakan, tetapi kalau diperintah guru dia mau mengerjakan. Walaupun hanya kasuistik, tapi itu mencerminkan bahwa pengaruh guru terhadap siswa sangatlah besar, termasuk dalam proses pembentukan karakternya. 'Guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari' ungkapan yang sudah tidak asing bagi kita semua.

        Sekolah-sekolah formal (SD, SMP dan SMA) memiliki porsi belajar yang dirancang untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup sebagai bekal hidup. Selama kurang lebih 7 jam per
hari di sekolah sebagai peserta didik oleh guru. Dari 7 jam perhari itu, diharapkan karakter siswa terbangun,baik melalui proses belajar mengajar ataupun interaksi antar civitas akademika. Tetapi jika kita amati dan sadari, ternyata dari sekian waktu interaksi antara guru dan anak didik, yang terjadi adalah proses transfer ilmu pengetahuan, bukan pada proses pembentukan karakter yang utuh. Sebagian besar waktu di kelas tersedia untuk menghabiskan target kurikulum yang diminta oleh dinas pendidikan. Sebagai akibatnya ikatan emosi antara guru dengan anak didik terasa hambar, bahkan, kesan ikatan yang tercipta seperti layaknya penjual dan pembeli. 'Apa yang saya berikan, harus mendapatkan imbalan yang setimpal, atau bahkan harus untung' setidaknya begitulah ekstrimnya, atau bahkan itu sudah lumrah.

          Setelah pulang sekolah, waktu yang dilalui seorang anak mempunyai pengaruh yang sama dengan lingkungan sekolah terhadap karakternya. Sedangkan kita semua mafhum, bahwasanya saat ini lingkungan luar sekolah memiliki sumbangan yang relatif kurang baik untuk pembentukan karakter anak. Saat ini kita akan mudah menemukan anak SMP berpacaran layaknya mahasiswa (orang dewasa). Kita akan mudah menemukan anak SMP bergaya hidup seperti orang dewasa, membentuk geng, berkonflik dengan teman hanya karena urusan cewek/cowok, dan lain-lain. Maka bukannya pesimis, tetapi jika hal ini tidak ada langkah preventif di dunia pendidikan, maka pendidikan kita hanya akan menghasilkan siswa yang pintar tetapi tidak berkarakter sebagai seorang yang terdidik. Atau bahkan lebih ironis, sudah tidak begitu pintar tidak berkarakter pula.

       Sebagai orang
tua, kita akan lebih senang melihat anak yang berakhlak baik, sopan, dan menghormati terhadap orang yang lebih tua. Kita akan lebih senang lagi kalau anak itu ternyata adalah anak yang pandai. Kalaupun ternyata tidak pandai, kita tidak mempermasalahkan. Kita akan kecewa jika mengetahui anak yang pandai dan jenius, tetapi ternyata mempunyai akhlak yang buruk, tidak tahu tatakrama, dan sombong. Oleh sebab itu kita sudah pasti sepakat bahwa tugas pendidikan membentuk karakter kepribadian anak tidak hanya pandai akademis, tetapi juga akhlak.
         Stakeholders yang paling berpengaruh di dalam proses pendidikan karakter ini adalah guru. Pendidikan karakter tidak perlu membutuhkan teori yang berlebihan tetapi yang lebih diutamakan adalah praktik di dalam kehidupan sehari-hari. Guru lebih dituntut untuk memberikan praktik dan contoh yang baik terhadap siswa. Selain itu guru adalah seorang motivator sekaligus menjadi seorang teladan bagi siswa-siswinya. Seoarang guru selain mempunyai kompetensi pedagogis sebagai basic pengajar, guru harus mempunyai beberapa kompetensi utama dalam melakukan proses pembelajaran pendidikan karakter.
       Kompetensi pertama adalah kompetensi kepribadian, menjadi guru yang berkepribadian baik, santun, serta mengembangkan sifat terpuji sebagai seoarang guru. Pendidikan karakter membutuhkan guru yang dapat memberikan nilai yang dapat langsung dicontoh oleh siswa. Bukan malah sebaliknya, guru memberikan contoh yang berdampak kurang persuasifnya siswa terhadap karakter dan kepribadian. Seperti sebagian guru dikota metropolitan yang berorientasi kemateri. Menuntut tunjangan lebih besar tetapi tidak diimbangi dengan kualitas serta profesionalitas di dalam melaksanakan pembelajaran. Hasil ujian nasional menunjukkan bahwa hasil kelulusan siswa SMP dan SMA di Jakarta menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Padahal gaji dan tunjangan guru di Jakarta merupakan angka yang tertinggi daripada di daerah lain di Indonesia. Hal ini menunjukkan karakter guru yang bermasalah.

         Kedua, kompetensi berinteraksi dan berkomunikasi. Guru berhasil membangun hubungan yang baik dengan siswa tanpa menghilangkan sopan santun antara guru dan murid. Sudah menjadi kewajiban guru untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan siswanya. Melakukan pendekatan yang persuasif untuk meningkatkan motivasi dalam belajar. Mampu memberikan konsep belajar mengajar yang tidak menekan dan memaksa terhadap siswa. Serta memberi sanksi yang sesuai dan konstruktif jika siswa melakukan kesalahan. Dan yang paling urgen adalah tidak ada legitimasi bagi guru untuk melakukan kekerasan terhadap siswa apapun alasanya baik kekerasan fisik maupun psikis. 

        Ketiga, kompetensi bimbingan dan penyuluhan. Dalam teori tabularasa siswa digambarkan sebagai sebuah kertas putih yang masih bersih yang nanti akan diisi dengan catatan-catatan kehidupan. Oleh sebab itu guru harus selalu memberikan bimbingan di dalam pengisian kertas putih yang bersih ini. Siswa akan selalu membutuhkan bimbingan dari orang lain dalam menjalani kehidupanya yang semakin kompleks. Memang sudah banyak disekolah-sekolah terdapat guru BK (Bimbingan dan Konseling), tetapi kebanyakan dilapangan justru siswa menjauhi guru BK karena merasa takut dan minder jika mengahadap guru BK. Kompetensi bimbingan dan penyuluhan seharusnya dimiliki oleh setiap guru, tidak hanya guru BK. Karena siswa lebih merasa nyaman dengan salah satu guru dari pada guru yang lain. Jika ada siswa yang ingin bimbingan maka guru harus membimbing siswa tersebut.

          Kita patut untuk memberikan apresiasi terhadap guru-guru Indonesia yang selama ini telah berjuang mencerdaskan generasi bangsa. Menghilangkan kebodohan dan membentuk kepribadian yang luhur serta memperjuangkan karakter bangsa yang bersih. Tetapi disisi lain, masih banyak karakter-karakter bejat dan culas yang masih menggerogoti negeri ini. Hal ini bukan menjadi tugas guru semata tetapi juga tugas kita semua. Semoga dimasa yang akan datang guru-guru Indonesia lebih berkarakter luhur di dalam melaksanakan pendidikan karakter nasional yang lebih realistis.
      
        Guru yang berkarakter adalah guru yang mempunyai prinsip hidup  dan perenungannya  dan kebebasan dalam berkreasi.Dengan prinsip yang  hidup yang dihasilkan dari pencarian dan perenungan, seorang guru mem­punyai kepercayaan diri dalam membimbing dan mendidik peserta didik sesuai dengan  per­kembangan dan kemam­puannya. Dengan kebebasan berkreasi, guru diharapkan dapat mengem­bangkan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, kreatif, dan inovatif sehingga potensi siswa berkembang secara maksimal.
Guru bekarakter akan berusaha menciptkan iklim belajar yang efektif dan menyenangkan, de­ngan kreativitas metode pem­belajaran, untuk mengurangi ke­jenuhan dan menyesuaikan dengan konteks pembelajaran sehingga tumbuh kegairahan dan motivasi instrinsik dan ekstrinsik.Dengan karakter positif yang ditunjukkan guru, diharap­kan pelanggaran disipilin ber­kurang; siswa berperilaku wajar, percaya diri, dan tidak sombong; dan persaingan sehat antarsiswa, kelas, dan guru tumbuh di lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan.Itulah pentingnya guru berkarakter bagi pem­bentukan karakter generasi muda.
       
       Guru adalah manusia biasa dan sebagai manusia biasa dalam melaksanakan peran sebagai pendidik dan sebagai pemimpin bagi anak didiknya dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar mereka memiliki gaya tersendiri. dari hasil observasi yang saya temukan, ada tiga tipe kategori dari gaya guru sebagai pendidik yaitu; gaya otoriter, gaya masa bodoh dan gaya demokrasi.
       Yang pertama, kita pasti pernah berhadapan dengan guru dengan gaya atau karakter otoriter ini, dimana  memperlihatkan kekuasaan mutlak atas anak didiknya selama pelaksanaan PBM (proses Belajar Mengajar) dan karakter otoriter ini juga dapat mendatangkan mimpi buruk bagi setiap anak didik. Senyuman manis dan kata- kata yang lembut merupakan barang yang langka yang diperoleh dari guru berkarakter otoriter ini. Guru killer adalah istilah lain yang diberikan oleh anak didik untuk guru berkarakter otoriter  tersebut.
       Kedua, guru dengan karakter masa bodoh. Karakter seperti ini cendrung menurunkan kualitas budaya sekolah. Suasana kelas akan menjadi amburadul, apalagi bila anak didik dikelas cukup banyak. Peranan guru yang berkarakter “masa bodoh” ini bisa agak bagus apa bila ia mengelola kelas dengan anak didik sedikit. Guru dengan karakter demikian perlu bersikap lebih tegas dan punya prinsip atas nilai kebenaran. Menambah kualitas ilmu dan wawasan dan kemudian bersikap lebih tegas akan mampu mengatasi karakter masa bodoh tersebut.
        Terakhir, Guru yang berkarakter demokratis adalah guru yang memiliki hati nurani yang tajam. Guru dengan karakter beginilah yang mampu menghadirkan hatinya dalam emosi anak didik selama pembelajaran. Guru berkarakter demokratis dan memiliki wawasan yang tinggi tentu akan mampu menenangkan hati anak didik atau memotivasi mereka dalam pembelajaran. Guru yang mampu menghadirkan hatinya pada hati anak didik disebut sebagai guru yang baik dan mereka akan dikenang oleh anak didik sepanjang hayatnya. Yang lebih banyak dikenang adalah guru yang baik.
       Setiap anak didik telah banyak mengenal banyak guru dalam hidupnya, ada guru yang pintar dan ada guru yang baik. Sekali lagi bahwa guru yang berkesan bagi mereka adalah guru yang menghadirkan hati atau emosinya saat melaksanakan PBM. Guru yang cerdas atau pintar namun memiliki pribadi yang kaku, mungkin juga kasar, kurang bisa bersimpati, pasti tidak banyak memberi pengaruh kepada anak didik. Guru yang mampu memberi pengaruh untuk masa depan anak didik melalui kata- kata atau bahasanya adalah guru yang memiliki pribadi yang hangat dan juga cerdas. Untuk itu adalah sangat ideal bila setiap guru mampu meningkatkan kualitas pribadinya menjadi guru yang cerdas, yaitu cerdas intelektual, cerdas emosi dan juga cerdas spiritualnya. Maka guru- guru yang beginilah yang patut diberi hadiah dengan lagu “guru pahlawan tanpa tanda jasa”.
       Kata-kata yang diucapkan oleh guru kepada siswa atau anak didik dalam pergaulan mereka di sekolah sangat menentukan masa depan mereka. Kata kata yang diucapkan oleh guru pada anak didik ibarat panah yang lepas dari busur. Kata yang keluar dari mulut guru akan menancap pada hati anak didik. Bila kata- kata tadi melukai hati mereka, maka goresannya akan membekas sampai tua. Sering kata kata yang tidak simpatik dari seorang guru telah menghancurkan semangat hidup mereka. Sebaliknya kata kata yang mampu memberi dorongan semangat juga sangat berarti dalam menumbuh dan mengembangkan semangat hidup- semangat belajar dan bekerja mereka. Maka untuk itu guru perlu menjalin hubungan dengan anak didik lewat kata- kata yang berkualitas.”
Karakteristik guru yang efektif dalam pengajaran akan tampak dalam situasi belajar yang diciptakannnya. Situasi belajar tersebut ditunjukkan dalam hal-hal berikut:
  1. Keluwesan dalam mengajar
  2. Adanya empati dan kepekaan terhadap segala kebutuhan siswa
  3. Kemampuan mengajar sesuai dengan selera siswa
  4. Kemauan memberi peneguhan (reinforcement)
  5. Kemauan memberi kemudahan, kehangatan dan cara mengajar yang tidak kaku.
  6. Kemampuan menyesuaikan emosi, percaya diri dan ada keriangan dalam mengajar.
Selanjutnya  dikemukakan pula cara-cara mendidik anak menurut Nabi Muhammad yang merupakan dasar-dasar metode yang harus dipegang oleh orang tua dan para pendidik, yaitu:
  1. Keteladanan yang baik
  2. Waktu yang baik untuk memberikan bimbingan
  3. Bersikap adil dan sama terhadap setiap anak
  4. Memenuhi hak-hak anak
  5. Mendoakan anak
  6. Membelikan alat permainan untuk anak
  7. Membantu anak untuk berbuat baik dan patuh
  8. Menjauhi banyak mencela
Sesuai dengan sabda Rasulullah diriwayatkan dari Ibnu abbas, artinya:
Ajarkanlah ilmu, berikan kemudahan dan jangan mempersulit, sampaikan kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari. Jika salah seorang diantara kalian marah, hendaklah ia diam”.
                                                                 Membangun Karakter Guru Yang Dicintai Anak-Anak
Sikap seorang guru terhadap muridnya merupakan bagian penting dalam menunjang keberhasilan mendidik murid-muridnya.  Seringkali guru bertanya apakah saya menjadi guru yang baik? Bagaimana menjadi guru yang baik? Guru bukanlah sekadar pekerjaan, tetapi sebuah profesi.  Namun pada kenyataannya tak jarang kita menemukan guru yang tidak sesuai dengan profesinya sebagai guru.  Sering di media massa diberitakan sikap guru yang tidak wajar terhadap muridnya bahkan cenderung sadis.  Memang dilema seorang guru yang di sisi lain harus tetap menunjukkan sikap profesional, tegas dan berwibawa, namun juga diharapkan sikap guru lembut, telaten dan sabar. 
Definisi guru yang baik selalu diuji para administrator pendidikan, pemerintah atau pakar pendidikan.  Masyarakat dalam hal ini orang tua bahkan media juga memiliki harapan-harapan mereka masing-masing. Akan tetapi, jarang anak-anak sebagai penerima layanan pendidikan, ditanya apa pendapat mereka mengenai hal ini.  Pada kenyataannya, anak-anak merupakan alasan munculnya profesi guru dan melalui mereka pulalah profesi ini mendapat nilai yang berharga.  
Menjadi guru adalah sebuah seni.  Menjadi guru yang baik itu melibatkan panggilan, kemampuan intelektual dan penguasaan materi, karakter, talenta dan kemampuan berkomunikasi.  Namun dari semua itu, yang terpenting adalah karakter.   Seorang guru bisa diibaratkan sebagai seorang gembala.  Ia tak hanya sekadar mengenal nama murid-muridnya saja, namun lebih dari itu guru mengenal kepribadian dan latar belakang mereka dengan sangat baik.  Dengan demikian guru yang baik berarti sangat menyadari perbedaan antar anak-anak, beragamnya cara mereka belajar, dan paham metode dalam menghadapi perbedaan itu untuk mendorong siswa mampu belajar.  Anak-anak yang belajar dengan guru semacam itu tentu saja tidak perlu lagi mengeluarkan uang tambahan untuk mengikuti les sepulang sekolah.
                                                                           Sikap dan Sifat yang Sangat Penting bagi Guru
Untuk menjadi seorang guru yang baik sebenarnya tidaklah sulit, tetapi apa ya parameternya ? Ada beberapa ramuan yang diambil dari bukunya E.Mulyasa (2007)
1.Adil
Seorang guru harus adil dalam memperlakukan anak-anak didik harus dengan cara yang sama, misalnya dalam hal memberi nilai dan menghukum anak. Jangan mentang-mentang ada anak titipan si A dan si B lalu memberlakukan eksekusi ekslusif.
2.Percaya dan suka terhadap murid-muridnya
Seorang guru harus percaya terhadap anak didiknya. Ini berarti bahwa guru harus mengakui bahwa anak-anak adalah makhluk yang mempunyai kemauan, mempunyai kata hati sebagai daya jiwa untuk menyesali perbuatannya yang buruk dan menimbulkan kemauan untuk mencegah hal yang buruk. Menyitir dari kalimat Atasanku di Kantor, Kita harus bisa memuliakan anak didik kita
3.Sabar dan rela berkorban
Kesabaran merupakan syarat yang sangat diperlukan apalagi pekerjaan guru sebagai pendidik. Sifat sabar perlu dimiliki guru baik dalam melakukan tugas mendidik maupun dalam menanti jerih payahnya.
4.Memiliki Wibawa (gezag) terhadap anak-anak
Gezag adalah kewibawaan. Tanpa adanya gezag pada pendidik tidak mungkin pendidikan itu masuk ke dalam sanubari anak-anak. Tanpa kewibawaan, murid-murid hanya akan menuruti kehendak dan perintah gurunya karena takut atau paksaan; jadi bukan karena keinsyafan atau karena kesadaran dalam dirinya.
5.Penggembira.
Seorang guru hendaklah memiliki sifat tertawa dan suka memberi kesempatan tertawa bagi murid-muridnya. Sifat ini banyak gunanya bagi seorang guru, antara lain akan tetap memikat perhatian anak-anak pada waktu mengajar, anak-anak tidak lekas bosan atau lelah. Sifat humor yang pada tempatnya merupakan pertolongan untuk memberi gambaran yang betul dari beberapa pelajaran. Yang penting lagi adalah humor dapat mendekatkan guru dengan muridnya, seolah-olah tidak ada perbedaan umur, kekuasaan dan perseorangan. Dilihat dari sudut psikologi, setiap orang atau manusia mempunyai 2 naluri (insting) : (1) naluri untuk berkelompok, (2) naluri suka bermain-main bersama. Kedua naluri itu dapat kita gunakan secara bijaksana dalam tiap-tiap mata pelajaran, hasilnya akan baik dan berlipat ganda.
6.Bersikap baik terhadap guru-guru lain
Suasana baik diantara guru-guru nyata dari pergaulan ramah-tamah mereka di dalam dan di luar sekolah, mereka saling menolong dan kunjung mengunjungi dalam keadaan suka dan duka. Mereka merupakan keluarga besar, keluarga sekolah. Terhadap anak-anak, guru harus menjaga nama baik dan kehormatan teman sejawatnya. Bertindaklah bijaksana jika ada anak-anak atau kelas yang mengajukan kekurangan atau keburukan seorang guru kepada guru lain.
7.Bersikap baik terhadap masyarakat
Tugas dan kewajiban guru tidak hanya terbatas pada sekolah saja tetapi juga dalam masyarakat. Sekolah hendaknya menjadi cermin bagi masyarakat sekitarnya, dirasai oleh masyarakat bahwa sekolah itu adalah kepunyaannya dan memenuhi kebutuhan mereka. Sekolah akan asing bagi rakyat jika guru-gurunya memencilkan diri seperti siput dalam rumahnya, tidak suka bergaul atau mengunjungi orang tua murid-murid, memasuki perkumpulan-perkumpulan atau turut membantu kegiatan masyarakat yang penting dalam lingkungannya.
8.Benar-benar menguasai mata pelajarannya
Guru harus selalu menambah pengetahuannya. Mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar. Guru yang pekerjaannya memberi pengetahuan-pengetahuan dan kecakapan-kecakapan kepada muridnya tidak mungkin akan berhasil baik jika guru itu sendiri tidak selalu berusaha menambah pengetahuannya. Jadi sambil mengajar sebenarnya guru itu belajar.
9.Suka pada mata pelajaran yang diberikannya
Mengajarkan mata pelajaran yang disukainya hasilkan akan lebih baik dan mendatangkan kegembiraan baginya daripada sebaliknya. Di sekolah menengah hal ini penting bagi guru untuk memilih mata pelajaran apa yang disukainya yang akan diajarkannya.
10.Berpengetahuan luas
Selain mempunyai pengetahuan yang dalam tentang mata pelajaran yang sudah menjadi tugasnya akan lebih baik lagi jika guru itu mengetahui pula tentang segala tugas yang penting-penting, yang ada hubungannya dengan tugasnya di dalam masyarakat. Guru merupakan tempat bertanya tentang segala sesuatu bagi masyarakat. Guru itu mempunyai dua fungsi isitimewa yang membedakannya dari pegawai-pegawai dan pekerja-pekerja lainnya di dalam masyarakat. Fungsi yang pertama adalah mengadakan jembatan antara sekolah dan dunia ini. Fungsi yang kedua yaitu mengadakan hubungan antara masa muda dan masa dewasa.
Seperti apakah guru yang baik itu, petanyaan ini dilontarkan oleh UNESCO badan PBB untuk urusan pendidikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa diseluruh dunia . Dari pertanyaan tersebut terkumpulah beberapa jawaban dari lima puluh Negara dan kemudian dihimpun menjadi buku yang diterbitkan dalam tiga bahasa yaitu ingris, Prancis dan spanyol, seperti itulah cara UNESCO untuk merekam pendapat anak-anak tentang gurunya dan sekaligus mengangkat citra guru. Guru merupakan unsur penting dalam dunia pendidikan, Tanggung jawab seorang guru adalah mengajarkan kepada anak didiknya ilmu yang bermanfaat dan berguna seluas-luasnya bagi kepentingan seluruh umat manusia. Dalam pandangan Negara guru adalah pahlawan yang berjasa dalam membangun suatu Negara karena ia berperan dalam mencerdaskan bangsa. Para ahli dan cendekiawan Islam telah menetapkan beberapa ciri seorang guru yang baik. Ciri-ciri tersebut menurut M.Rosidin Nawawi (2010)  antara lain sebagai berikut :
a. Ikhlas dalam Mengemban Tugas sebagai Pengajar.
Seorang guru harus mempunyai falsafah hidup bahwa tugasnya tersebut merupakan bagian dari ibadah. Tentu saja suatu ibadah tidak akan diterima Allah bila tidak disertai dengan keikhlasan. Amat jauh perbedaan antara seorang guru yang ikhlas dan saleh dengan seorang guru yang munafik. Seorang pelajar biasanya dapat berprestasi karena keikhlasan dan kesalehan gurunya. Hal itu telah dijamin oleh Allah dalam firman-Nya berikut: “Hendaklah kalian menjadi orang-orang yang rabbani (orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah), karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya,” (QS Ali Imran:79)
b. Memegang Amanat dalam Menyampaikan Ilmu
Bagi seorang guru, ilmu merupakan amanat dari Allah yang harus disampaikan kepada anak didiknya dengan tanpa ada yang dikurangi. Ia juga harus menyampaikannya sebaik dan sesempurna mungkin. Jika ada seorang guru menahan atau menyembunyikan ilmu yang dimilikinya, maka ia berarti telah berkhianat pada amanat yang telah diberikan Allah kepadanya. Secara umum Allah telah memerintahkan untuk menyampaikan amanat (kepada yang berhak), termasuk amanat ilmu. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil (QS An-Nisa  58).
c. Memiliki Kompetensi dalam Ilmunya
Sudah menjadi keharusan bagi seorang pengemban tugas sebagai pengajar untuk memilki penguasaan yang cukup atas ilmu yang akan ia ajarkan. Ia juga dapat menggunakan sarana-sarana pendukung dalam menyampaikan ilmu. Allah memerintahkan setiap orang untuk menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan yang diinginkan-Nya. Karakter ini berlandaskan sabda Rasulullah Saw. berikut: “Sesungguhnya Allah menyukai seorang di antara kalian yang bila bekerja ia menyelesaikan pekerjaannya (dengan baik),” (HR Al-Baihaqi). Disebutkan abad 21 merupakan abad global. Masa ini ditandai dengan kehidupan masyarakat yang berubah cepat karena dunia semakin menyatu. Maka pada era ini profesionalisme mutlak dibutuhkan, apalagi pada dunia global lebih diutamakan pada penguasaan kemampuan dan ketrampilan serta penuh dengan persaingan. Globalisasi mengubah hakikat kerja dari amatirisme menuju kepada profesionalisme.
d. Menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya
Seorang pelajar pasti selalu melihat gurunya. Baginya, seorang guru adalah contoh berakhlak dan bertingkah laku, seperti halnya ia mengambil ilmu darinya. Oleh karena itu, seorang guru berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian seorang murid. Rasulullah sendiri dapat mempengaruhi khalayak ramai saat itu hanya dengan keteladanan beliau yang baik. Tidak heran bila waktu itu banyak orang Arab yang masuk Islam secara beramai-ramai. Tentang pentingnya keteladanan ini, Al-Quran menjelaskan dalam firman Allah Swt. berikut: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah, hari akhir (kiamat), dan dia banyak menyebut Allah,” (QS Al-Ahzab :21). Secara teoritis menjadi teladan merupakan bagian integral dari seorang guru sehingga menjadi guru berarti menerima tanggung jawab untuk menjadi teladan, memang setiap profesi mempunyai tuntutan-tuntutan khusus dan karenanya bila menolak berarti menolak profesi itu. Berikut ini beberapa hal berkaitan dengan sikap dalam kehidupan seharai-hari yang harus diperhatikan bagi seorang guru : Sikap, gaya bicara, kebiasaan bekerja, pakaian, hubungan kemanusiaan,.serta gaya hidup secara umum. Dengan memperhatikan beberapa hal tersebut diharapkan seorang guru benar-benar layak menjadi teladan, baik dilingkungan sekolah maupun di masyarakat. Sebagai individu yang berkecimpung dalam dunia pendidikan guru harus mencerminkan seorang pendidik, salah satu ungkapan yang selalu melekat pada seorang guru adalah guru bisa digugu dan ditiru. Digugu maksudnya pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru.
e. Mengetahui Taraf Perkembangan anak.
Dengan mengetahui taraf perkembangan anak seorang guru dapat memberikan bimbingan kepada anak didik nya dengan tepat sesuai dengan usianya. Dalam hal ini seorang guru harus mengetahui psikologi perkembangan peserta didik yaitu fase-fase perkembangan berdasarkan pada usianya meliputi perkembangan kognitif, emosional dan sebagainya.
f. Mencintai muridnya
Sebagaimana pertanyaan yang disampaian oleh badan PBB di
bidang pendidikan UNESCO mengenai guru yang baik. Maka ada salah satu pernyataan mengenai hal tersebut yang disampaikan oleh Le Nhu Anh. Dia adalah seorang murid dari Vietnam menyatakan bahwa sungguh menyenangkan jika engkau wahai guru menyanyi dan bermain bersama kami memperlakukan kami sama dan mengerti perasaan, aspirasi dan suasana hati kami . Dalam nada yang sama Fatoumata menulis guru yang baik akan memperlakukan siswanya seperti anaknya sendiri. Berdasarkan pernyataan tersebut menjadi keharusan bagi seorang guru adalah sayang pada anak didiknya, karena dengan sikap tersebut akan terjalin hubungan yang baik antara guru dan murid, tidak hanya di lingkungan kelas tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.

g. Berbuat yang terbaik
Guru yang baik akan selalu berupaya berbuat yang terbaik untuk siswanya, berbuat terbaik untuk orang disekitarnya. Guru yang baik akan selalu mengembangkan dirinya dan mensejajarkan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk melakukan hal tersebut guru harus aktif tidak saja mengajar, tetapi juga aktif di setiap kegiata-kegiatan yang berbau pendidikan. Apalagi sekarang ini kalau guru tidak aktif menambah ilmu pengetahuan, wawasan, dan ketrampilannya maka ia akan ketinggalan. Pendeknya citra sebagai guru akan berkurang.
Dalam dunia pendidikan guru selalu menjadi tokoh sentral dalam memajukan dunia pendidikan. Ia mempunyai andil yang sangat besar terhadap keberhasilan proses pendidikan tersebut. Berat tanggung jawab yang harus dipikul oleh guru kalu ia sadar dengan profesinya sebagai guru. Guru tidak saja diharapkan pintar mengajar di depan keas, tetapi juga mempunyai andil dalam kehidupan bermasyarakat. Guru diharapkan menghasilkan siswa didik yang berkualitas sehingga dapat melahirkan generasi yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin rumit.
                                                                                 Peran Guru Dalam Pengembangan Karakter  
Guru memegang peranan yang sangat strategis terutama dalam membentuk watak bangsa serta mengembangkan potensi siswa. Kehadiran guru tidak tergantikan oleh unsur yang lain, lebih-lebih dalam masyarakat kita yang multikultural dan multidimensional, di mana peranan teknologi untuk menggantikan tugas-tugas guru sangat minim. Guru memiliki perana yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Guru yang profesional diharapkan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Profesionalisme guru sebagai ujung tombak di dalam implementasi kurikulum di kelas yang perlu mendapat perhatian (Depdiknas, 2005). Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab uuntuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam belajar sebagai suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan proses perkembangan siswa. Secara lebih terperinci tugas guru berpusat pada:
  1. Mendidik dengan titik berat memberikan arah dan motifasi pencapaian tujuan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
  2. Memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai.
  3. Membantu perkembangan aspek–aspek pribadi seperti sikap, nilai-nilai, dan penyesuaian diri, demikianlah dalam proses belajar mengajar guru tidak terbatas sebagai penyampai ilmu pengetahuan akan tetapi lebih daripada itu. Ia bertanggung jawab akan keseluruhan perkembangan kepribadian siswa. Ia harus mampu menciptakan proses belajar yang sedemikian rupa sehingga dapat merangsang siswa muntuk belajar aktif dan dinamis dalam memenuhi kebutuhan dan menciptakan tujuan. (Slameto, 2002)
Begitu pentinya peranan guru dalam keberhasilan peserta didik maka hendaknya guru mampu beradaptasi dengan berbagai perkembangan yang ada dan meningkatkan kompetensinya sebab guru pada saat ini bukan saja sebagai pengajar tetapi juga sebagai pengelola proses belajar mengajar. Sebagai orang yang mengelola proses belajar mengajar tentunya harus mampu meningkatkan kemampuan dalam membuat perencanaan pelajaran, pelaksanaan dan pengelolaan pengajaran yang efektif, penilain hasil belajar yang objektif, sekaligus memberikan motivasi pada peserta didik dan juga membimbing peserta didik terutama ketika peserta didik sedang mengalami kesulitan belajar. Salah satu tugas yang dilaksanakan guru di sekolah adalah memberikan pelayanan kepada siswa agar mereka menjadi peserta didik yang selaras dengan tujuan sekolah.
 Guru mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, baik sosial, budaya maupun ekonomi. Dalam keseluruhan proses pendidikan, guru merupakan faktor utama yang bertugas sebagai pendidik. Guru harus bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi belajar mengajar. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar dan karenya guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar di samping menguasai materi yang disampaikan. Dengan kata lain guru harus menciptakan suatu konidisi belajar yang sebaik-baiknya bagi peserrta didik. Inilah yang tergolong kategori peran guru sebagai pengajar. Di samping peran sebagai pengajar, guru juga berperan sebagai pembimbing artinya memberikan bantuan kepada setiap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuan diri secara maksimal terhadap sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Oemar Hamalik (2002) yang mengatakan bimbingan adalah proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimal terhadap sekolah, keluarga serta masyarakat.
Sehubungan dengan perananya sebagai pembimbing, seorang guru harus :
  1. Mengumpulkan data tentang siswa.
  2. Mengamati tingkah laku siswa dalam situasi sehariu-hari.
  3. Mengenal para siswa yang memerlukan bantuan khusus.
  4. Mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orang tua siswa, baik secara individu maupun secara kelompok, untuk memperoleh saling pengertian tentang pendidikan anak.
  5. Bekerjasama dengan masyarakat dan lembaga-lembaga lainya untuk membantu memecahkan masalah siswa.
  6. Membuat catatan pribadi siswa serta menyiapkannya dengan baik.
  7. Menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu.
  8. Bekerjasama dengan petugas-petugas bimbingan lainnya untuk membantu memecahkan masalah siswa.
  9. Menyusun program bimbingan sekolah bersama-sama dengan petugas bimbingan lainnya.
  10. Meneliti kemajuan siswa, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Peran guru sebagai pengajar dan sebagai pembing memiliki keterkaitan yang sangat erat dan keduanya dilaksanakan secara berkesinambungan dan sekaligus berinterpenetrasi dan merupakan keterpaduan antara keduanya.
                                                                                       Karakter Guru dalam Perspektif Alquran
Pendidikan adalah sebuah proses yang tak berkesudahan yang sangat menentukan karakter bangsa pada masa kini dan masa datang, apakah suatu bangsa akan muncul sebagai bangsa pemenang, atau bangsa pecundang sangat bergantung kepada kualitas pendidikan yang dapat membentuk karakter anak bangsa tersebut.
Karakter satu bangsa sangat dipengaruhi oleh kultur dasar bangsa tersebut. Jepang memiliki kultur Bushido yang menekankan kesetiaan, kedisiplinan tinggi, dan semangat pantang menyerah. Persentuhan bangsa Eropa dengan Islam melalui Spanyol, Sisilia, dan Perang Salib pada abad ke 11M telah membentuk karakter bangsa Eropa menjadi bangsa pembelajar sehingga mampu menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan karya sarjana muslim di abad pertengahan, yang bermuara pada penguasaan mereka yang tinggi terhadap iptek hingga saat ini.
Sesuai dengan taksonomi bloom bahwa ada 3 aspek dominan yang harus dikembangkan dalam diri setiap individu yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Pendidikan karakter akan mengenalkan individu kepada nilai-nilai serta norma kedalam wilayah kognitif. Kemudian nilai-nilai serta norma tersebut secara bertahap akan diarahkan untuk dihayati dan diresapi kedalam wilayah afektif siswa. Sedangkan di dalam pengejawantahan di dalam pribadi siswa, disetiap harinya siswa akan menerapkan di dalam masyarakat dimana siswa mampu berinteraksi dan bersosialisasi secara langsung. Proses kontak serta interaksi inilah yang akan menuntun aspek psikomotorik siswa untuk menerapkan nilai yang telah difahami dalam wilayah kognitif dan afektif.
Di dalam mendedikasikan pendidikan karakter ini diperlukan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen-komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai luhur baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Dalam pendidikan karakter disekolah perlu dilibatkan semua komponan stakeholders, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, seperti kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan sekolah, serta ethos kerja seluruh lingkungan
sekolah.
Menurut Muhammad Kosim,M.A. (2011) dalam pelaksaan pendidikan sejatinya umat Islam menerapkan pendidikan karakter berbasis al-Quran, Peran seorang guru sangat menentukan dalam pendidikan karakter tersebut. Jika Alquran dijadikan sebagai basis, maka seorang guru pun mesti memiliki karakter sebagaimana yang diajarkan Alquran. Untuk mengetahui karakter guru dalam perspektif Alquran,  dapat dilihat dari istilah-istilah yang semakna dengan guru. Paling tidak, menurut Abuddin Nata, ada delapan Isitilah yang menunjukkan makna guru, yaitu: ulama, ar-rasikhuna fi al-ilm, ahl dzikr, murabbi, muzakky, ulul albab, mawa’idz, dan mudarris. Selain itu ada pula istilah mu’allim, mursyd dan sebagainya.
Pertama, ulama. Surat Fathir 35: 28, mengisyaratkan bahwa ulama adalah orang yang memiliki ilmu, dengan ilmunya ia “takut” kepada Allah. Ilmu yang dimiliki ulama bisa berupa ilmu agama (tafaqqahu fi al-din) atau ilmu alam (seperti sains). Sedangkan hakikat ilmu itu sendiri sama-sama berasal dari Allah. Jadi tugas utama seorang ulama adalah mengajarkan ilmu yang menjadikan seseorang takut dan dekat kepada Allah. Jadi, guru sebagai ulama sejatinya menguasai ilmu agama dan ilmu secara mendalam, mau mengajarkan ilmunya itu atas panggilan agama; memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan bagi masyarakat; serta mengembangkan ilmunya secara terus-menerus, melakukan peran sebagai pelindung dan pembimbing masyarakat, sebagai motivator dalam pembangunan, melakukan peran sebagai tokoh masyarakat; dan sebagainya. Tegasnya, bukan guru agama saja yang patut disebut ulama, tetapi guru umum yang mengajarkan ilmunya atas panggilan agama dan menanamkan nilai-nilai tauhid melalui ilmu itu, ia pun patut disebut ulama.
Kedua, ar-rasikhuna fi al-ilm. Istilah ini ditemukan dalam surat Ali Imran 7 yaitu orang yang mendalam ilmunya sehingga ia tidak hanya dapat memahami ayat-ayat yang jelas dan terang maksudnya (ayat-ayat muhkamat), juga memahami ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian (interpretable). Mereka adalah orang yang memperoleh hidayah dari Allah. Iman mereka kokoh, taat menjalankan ibadah, memiliki kepedulian sosial, serta berakhlakul karimah. Guru seyogyanya memiliki karakter sebagai ar-rasikhuna fi al-’ilm, hampir sama dengan karakter ulama. Bedanya, ulama tidak saja di bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Sementara ar-rasikhuna fi al-’alm lebih terkonsentrasi pada ilmu pengetahuan.
Ketiga, Ahl dzikr. Istilah ini terdapat dalam surat An-Nahl 43, yaitu orang yang memiliki pengetahuan, menguasai masalah, atau ahli di bidangnya. Sebagai ahl dzikr, karakter guru hendaklah sebagai orang yang mengingatkan pada siswa dari perbuatan yang melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya. Guru adalah seseorang yang mendalami ajaran-ajaran yang berasal dari Allah SWT, terutama yang terkait dengan bidang keilmuannya.
Keempat, murabbi. Istilah ini seakar dengan kata rabb atau tarbiyah, artinya pemelihara, pendidik, atau membuhkembangkan. Allah juga murabbi bagi makhluk-Nya (Al-Fatihah 2). Adapun pendidikan Allah terhadap manusia terbagi dua, yaitu: pendidikan kejadian fisiknya serta pendidikan keagamaan dan akhlak. Al-Muraghi menyebutkan bahwa al-Murabbi adalah orang yang memelihara, mengajar yang dibimbingnya dan diatur tingkah lakunya. Guru sebagai al-Murabbi adalah seseorang yang berusaha menumbuhkan, membina, membimbing, mengarahkan segenap potensi peserta didik secara bertahap dan berkelanjutan. Mereka membina aspek jasmani dan rohani manusia sehingga berkembang secara sempurna. Karena itu seorang guru harus memiliki kesanggupan dan kecakapan baik jasmani maupuan rohani, sehingga tugasnya yang berat itu dapat ia laksanakan dengan sebaik-baiknya.
Kelima, Muzakki, yaitu orang yang menyucikan. Di antara ayat yang mengandung istilah ini adalah surat al-Baqarah 151. Sesungguhnya, yang melakukan tugas membersihkan dan menyucikan adalah Allah dan Nabi Muhammad SAW. Jadi Allah dan Rasul adalah al-Muzakki. Dalam konteks pendidikan, guru juga berperan sebagai al-muzakki, yaitu orang yang mampu membentuk manusia yang terhindar dari perbuatan yang keji dan munkar serta menjadi manusia yang berakhlak mulia. Karakter muzakki mengajarkan agar seorang guru senantiasa berupaya untuk menyucikan dirinya sehingga ia mudah menyucikan jiwa peserta didiknya.
Keenam, ulul albab. Di antara ayat yang memuat istilah ini adalah surat Ali Imran 190-191). Ulul albab adalah orang yang berzikir dan berpikir. Mereka memiliki pemikiran (mind) luas dan dalam, perasaan (heart) halus dan peka, daya pikir (intellect) tajam dan kuat, pandangan (insight) luas dan dalam, pengertian (understanding) akurat, tepat, dan luas, serta memiliki kebijaksanaan (wisdom) yaitu mampu mendekati kebenaran dengan pertimbangan adil dan terbuka.
Ulul Albab adalah orang yang berakal atau orang yang dapat berfikir dengan menggunakan akalnya. Hal-hal yang mereka pikirkan itu amat banyak dan beragam, di antaranya ayat-ayat qauliyah (Alquran) dan ayat-ayat kauniyah (alam semesta). Mereka juga mampu menganalisis secara mendalam terhadap berbagai masalah tersebut, kemudia ia dapat menarik hikmah atau pelajaran yang mendalam dari berbagai peristiwa tersebut. Karakter ulul albab mengajarkan agar guru senantiasa menggunakan akalnya untuk memikirkan dan menganalisa berbagai ajaran yang berasal dari Tuhan, peristiwa yang terjadi di sekitarnya untuk diambil makna mengajarkan kepada anak didiknya.
Ketujuh, mawa’izh atau orang yang memberi nasehat (Qs. Asy-Syu’ara 136). Guru sebagai mawa’izh adalah orang yang senantiasa mengingatkan, menasehatkan dan menjaga anak-anak didiknya dari pengaruh yang berbahaya. Nasehat itu berdasarkan kepada ajaran Alquran dan Hadis untuk melunakkan hati anak-anak muridnya sehingga mereka menjadi manusia yang terpelihara dari dosa-dosa serta mereka menjadi generasi yang shaleh dan berprestasi.
Kedelapan, mudarris. Di antara ayat yang mengandung akar kata ini adalah surat al-An’am 105. Guru sebagai mudarris adalah orang yang senantiasa melakukan kegiatan ilmiah seperti membaca, memahami, mempelajari dan mendalami berbagai ajaran yang terdapat di dalam Alquran dan Sunnah. Ia juga berupaya mengajarkan dan membimbing para siswanya agar memiliki tradisi ilmiah yang kuat.
Kesembilan, mu’allim, yaitu orang yang berilmu. Istilah ini tersirat dalam surat al-Baqarah 151. Makna ilmu dalam perspektif Alquran lebih luas dan mendalam dari istilah knowledge, sains, atau logos. Kata ilmu memiliki kaitan dengan alam, amal, dan al-‘alim. Ilmu berkembang dengan mengkaji alam. Ilmu itu harus diamalkan, dan ilmu tersebut mesti mendekatkan diri kepada al-’Alim, yaitu Allah Yang Maha Memiliki Ilmu. Guru mesti mengajarkan ilmu yang terkait dengan kognisi, psikomotor, dan apeksi. Jadi guru bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu untuk diamalkan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kesepuluh, mursyd yang berasal dari kata rasyada, artinya cerdas. Istilah ini terkandung dalam surat an-Nisa 6. Cerdas dimaksud tidak saja pada intelektualitasnya, tetapi berhubungan erat dengan spiritualnya.
Masih banyak istilah lain yang patut dikaji dan dikembangkan dari ayat-ayat Alquran. Jelasnya, kesepuluh istilah di atas menunjukkan bahwa karakter seorang guru tidak sekedar penyampai materi (transfer of knowledge), tetapi yang terpenting adalah melakukan internalisasi nilai (internalitation of values) yang berbasis Alquran. Tegasnya, guru dituntut untuk membaca, mengkaji, mengamalkan dan mengajarkan ayat-ayat Alquran sesuai dengan bidang keilmuan yang dimilikinya.
Dalam Islam, kedudukan seorang guru sangatlah mulia. Dan oleh karena itu pula sudah selayaknya seorang guru juga menjaga kemuliaan dirinya. Ada beberapa sifat yang harapannya bisa menjadi sifat bagi semua guru.
1.Zuhud dalam arti tidak mengutamakan materi, dan mengajar karena mencari keridlaan Allah semata. Berkaitan dengan inilah maka kewajiban negara untuk memberikan penghidupan yang layak bagi para guru dengan seluruh fasilitas kehidupan yang memadai.
2.Kebersihan guru harus senantiasa dijaga. Artinya seorang guru harus bersih tubuhnya, jauh dari perbuatan maksiat, dosa, dan kesalahan. Bersih jiwanya, terhindar dari dosa besar, sifat riya’, dengki, permusuhan, perselisihan dan sifat-sifat lain yang tercela. Rasulullah saw. bersabda: “Rusaknya umatku karena dua macam manusia, yaitu seorang alim yang durjana dan seorang shaleh yang jahil, orang yang paling baik adalah ulama yang baik dan orang yang paling jahat adalah orang-orang yang bodoh
3.Ikhlash dalam pekerjaan. Keikhlasan dan kejujuran merupakan kunci bagi keberhasilan seorang guru dalam menjalankan tuganya. Ikhlas artinya sesuai antara perkataan dan perbuatan, melakukan apa yang ia katakan dan tidak malu untuk menyatakan ketidaktahuan. Seorang alim adalah orang yang selalu merasa harus menambah ilmunya dan menempatkan dirinya sebagai pelajar untuk mencari hakikat, di samping itu ia ikhlas terhadap murid dan menjaga waktunya. Tidak ada halangan seorang guru belajar dari muridnya, karena seorang guru dalam pendidikan Islam adalah seorang yang rendah hati, bijaksana, tegas dalam kata dan perbuatan, lemah lembut tanpa memperlihatkan kelemahan, keras tanpa memperlihatkan kekasaran.
4.Pemaaf. Ia sanggup untuk menahan kemarahan, menahan diri, lapang hati, sabar, dan tidak pemarah.
5.Seorang guru merupakan bapak/ibu, saudara, dan sahabat sebelum ia menjadi guru
6.Seorang guru harus mengetahui tabiat murid
7.Menguasai materi pelajarannya.
8.Kreatif dalam memberikan pengajaran kepada siswanya, sehingga siswa mudah dalam menerima transfer pemikiran yang diberikan.
9.Harus menaruh kasih sayang terhadap murid dan memperhatikan mereka seperti terhadap anak sendiri.
10.Memberikan nasihat kepada murid dalam setiap kesempatan.
11.Mencegah murid dari akhlak yang tidak baik dengan jalan sindiran, terus terang, halus dengan tidak mencela.
12.Guru harus memperhatikan tingkat kecerdasan muridnya dan berbicara dengan mereka dengan kadar akalnya, termasuk di dalamnya berbicara dengan bahasa mereka.
13.Tidak menimbulkan kebencian pada murid terhadap suatu cabang ilmu yang lain.
14.Guru harus mengamalkan ilmu dan selarasnya kata dengan perilaku.
Dengan begitu tidak boleh berhenti belajar, meskipun telah mengajar. Guru harus tetap belajar membina dan mendidik dirinya sendiri sehingga berhasil mendidik orang lain. Dengan begitu generasi Qurani mudah terwujud.
Sebagai penutup, penulis kutipkan ungkapan Dorothy Law Nolte yang  memberikan kata-kata mutiara untuk pendidik sebagai berikut:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, maka ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, maka ia belajar berlaku adil.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia akan menemukan cinta dalam kehidupan.
Begitulah anak selalu belajar dalam kehidupannya.

Drs. Zaenal Muttaqin,M.Pd.
Guru/Kepala SMPN 1 Sodonghilir
Jl.Raya Barat Ds/Kec. Sodonghilir Kab.Tasikmalaya

Advertisement advertise here